ISTRIMU ADALAH REJEKIMU

Pernikahan 12 Hari: Berpisah Tanpa Penjelasan, Istri Dibiarkan Pergi Begitu Saja

“Halo semua,aku nay

Wanita asli Malang berusia 23 tahun yang ingin membagikan kisah yang tidak pernah terbayangkan akan kualami sendiri. Tujuan dari aku bercerita kepada kalian adalah yang pertama sekali aku butuh support system

Beberapa waktu terakhir aku ngerasa lelah banget sama hidup, sempet ngerasa ter”telanjangi” oleh setiap keluar dan bertemu orang yang mengerti tragedi ini. “Itu loh cewe yang nikah cuma 12 hari”,”nggak kasihan orangtuanya apa nikah dibikin mainan”

Dari yang awalnya suka banget keluar rumah, sekarang setiap keluar mesti pake masker dan helm dari dalam rumah. Setiap kemana-mana dilihatin dengan tatapan aneh dan suara bisik-bisik yang aku pun tahu bahasannya apa

Yang kedua aku bikin thread ini, aku pengin semua orang yang baca bisa memetik pengalaman dan jangan jadi seperti aku. Cukup aku yang ngerasain kekelaman ini. Aku juga berharap banget kalian bisa mengutarakan pendapat dari sisi kalian

Okay here we go
Maaf kalo berantakan because this is my first time bikin ginian. Aku nggak bakal pake identitas palsu, jadi kalau setelah thread ini kalian ketemu aku di mana pun, jangan bisik-bisik seperti mereka yaaa. Sapa aja siapa tahu bisa sharing

Kami menikah 13 Desember 2019
Masih baru banget ya? Masih hangat-hangatnya kalau saja semua berjalan seperti kisah beruntung orang di luar sana. Tapi ntah, ketidak beruntungan sedang ingin sekali berteman denganku. Pernikahan kami hanya bertahan 12 hari.

Sampai pada 25 Desember, dia meninggalkanku tanpa aba-aba.
Tanpa perpisahan yang jelas, tanpa kesempatanku untuk bertanya kenapa? Apa yang bisa kuperbaiki? Ada yang salah sama aku?

Kalian pasti juga heran, ada apa?

Aku dan dia saling kenal sejak 2018, hanya saling mengenal karena dia adalah teman dari seorang temanku. Sejak itu kami berangsur dekat
Chattingan 24×7
Teleponan sampai tengah malam bahkan dini hari

Video call di tengah kesibukan hanya untuk melihat wajah satu sama lain dan memastikan keadaan kami baik-baik saja
Iya, seindah itu. Kami sedekat itu tanpa label “pacaran”
Tiba-tiba semua mengalir begitu saja

Sampai pada 20 April 2019
Aku inget banget, bertempat di cafe C* cabang batu malang. Dia menyampaikan keinginannya untuk menjalin hubungan yang serius. Aku cuma jawab “oh maksudmu pacaran?”. Tapi di luar ekspektasi dia justru bilang..

“Enggak, aku udah bosen pacaran. Kita udah deket kan selama ini.”
“Lah trus apa dong? Jawabku yang emang nggak ada pikiran sama sekali bakal ke sana
“Ayok nikah. Aku udah yakin dan aku udah bilang orangtuaku kalau dalam waktu dekat aku bakal ngelamar anak orang.”

Siapa sih yang nggak kaget? Di umur 23 tahun ada yang berniat baik dan itu dateng tiba-tiba.
Tapi aku nggak jawab saat itu juga, aku minta waktu buat mikir. Di satu sisi aku mengenalnya lama, yang aku tahu waktu itu dia orang baik
Pekerja keras

Di usia segitu dia bisa bertahan tanpa ayah (sudah alm) dan bisa menghidupi ibunya dengan layak. Aku lihat sosial medianya semua karena aku nyari siapa tau ada yang nggak aku tau. Dan nggak ada, semuanya baik-baik saja.

Apalagi lihat dia dengan niat serius nan gentle buat ngajak aku ke jenjang yang lebih serius, aku yakin kalian semua bakal susah untuk nolak. Semua di luar perkiraan, setelah satu minggu aku berpikir dan sempat mengajak diskusi orang tua.

Orang tua sama kagetnya, nggak ada aba-aba apa tiba-tiba putri pertamanya bilang dilamar orang. Seneng sekaligus terharu dan bingung, karena kalian juga tau menikah itu apalagi pake adat daerah menelan biaya yang nggak sedikit.

Akhirnya aku ajak ketemu dia, and i said yes.
Setelah pertimbangan panjang dan segala keraguan yang berusaha kubuang karena di mataku dia orang yang bener-benar baik. Pas dia nganterin aku pulang dia bilang ke ayahku langsung dong.

“Pak, Senin saya dan keluarga akan bertamu ke rumah bapak dengan niat baik.” Ayah aku yang sebelumnya udah diskusi kayak berkaca-kaca gitu
(ya Allah keinget ini ngetik sambil sesenggukan). Ayah nyamperin dia dengan masih pake sarung sehabis sholat

Ayah pegang pundak dia sambil bilang “insyaAllah, kalau kamu memang ada niat baik pasti dilancarkan. Silahkan, ayah tunggu kamu dan sekeluarga.” (nggak bisa diskip apa ya bagian ini :”). Aku dan mama yang liat cuma bisa berkaca-kaca aja.

Akhirnya hari senin pun tiba, kami melakukan prosesi lamaran. Dia dengan 13 orang keluarga dan di rumah kami juga banyak saudara yang datang. Semua dilakukan tertutup, tanpa dokumentasi dan dekorasi.

Karena waktunya hanya 5 hari sejak aku bilang “iya” dan permintaan ayahku untuk melakukan prosesi ini sekhidmat mungkin (tidak diribetkan dengan foto sana sini). Om dia yang menyatakan lamaran dan ayah aku yang menerima dan mengiyakan.

Waktu saat penentuan tanggal, agak ribet di sini. Yang kupikir kami akan menikah 2020 atau justru 2021 ternyata malah ketemu tanggal 13 desember 2019. Kaget? Pasti. Antara ragu, siap tidak siap tapi harus siap karena sudah keputusan 2 keluarga.

Jadi kamu resmi bertunangan di hari itu ,dan menunggu sekitar kurang lebih 8 bulan sampai hari H pernikahan. Tidak ada yang aneh, semua berjalan lancar sampai pada 24 September kami melakukan sesi prawedding.

Belum ada yang aneh, sesi kami laksanakan dengan enjoy dan bahagia (selayaknya pasangan yang menantikan hari bahagia)
Ngga ada pikiran lain selain seneng, bahagia dan bersyukur sama Allah sudah diberi kenikmatan seindah ini.

See detail
Twitter
Bahkan ada videonya tapi nggak akan aku upload karena aku bener-bener nggak sanggup lihat.
Selayaknya pasangan yang akan menikah, kami mempersiapkan semuamya dengan matang. Setiap bertemu kami membicarakan desain undangan, dekorasi bahkan sampai makanan di hari H.

Semua terasa indah dan menyenangkan
Memilih gaun dan jas yang bakal dipake di hari yang nggak bakal terlupakan seumur hidup. Ngebayangin setelah ini akan ada wajah yang kalian lihat di pagi hari..
Akan ada yang menampung segala keluh kesahmu

Sampai di H-30 ada sedikit kerikil, kalo orang-orang bilang cobaan sebelum pernikahan
Kita selisih pendapat sampai bertengkar hebat dan sampai terdengar di telinga orang tua kami
Akhirnya kedua keluarga bertemu, dan syukurlah masalah bisa teratasi

Setelah masalah itu satu hal baru yang aku tahu, marahnya dia waktu itu bahkan masih teringat sampai sekarang. Gimana nada tingginya dia, gimana telunjuknya nunjuk-nunjuk dan aku nggak nyangka kalau dia sampai berani dorong aku ..
Kaget..
Setengah mati kaget..

Aku nggak berani cerita orang tua
Karena waktu itu kurang 25 harian dan semua sudah siap
Undangan sudajh nyebar, dekorasi sudah lunas, catering,seragam bridesmaid dan saudara semuanya sudah kesebar
Bingung..

Tiba-tiba aku takut ngadepin dia..
Setiap keinget dia, aku inget gimana cara marahnya dia
Sekitar 10 hari kita nggak ketemu, kita komunikasi lewat whatsapp dan dia minta maaf kalau sudah khilaf
Dia bilang dia di luar kendali

Dia bilang dia terlalu fokus sama amarahnya dan nggak bisa ngontrol
Sampe di h-10 aku nemuin sesuatu di handphone dia
Chat dia sama kakak iparnya (istri dari kakaknya dia)
Ternyata dia tidak memandangku dengan baik..

Aku orang yang lumayan suka kerja, di sana sini selama ada kesempatan aku bakal kerjain. Pagi sampai sore bantu usaha keluarga di rumah dan di malem hari aku ngajar private anak SMP dan SMA. Di hari sabtu minggu aku ngajar tambahan di salah satu sekolah islam

Dan di sekolah itu aku terikat kontrak. Di hari H kita 13 desember, tanggal 14 nya hari minggu ada acara kecil-kecilan di rumah dia yang dihadiri keluarga dia aja. Aku bilang hari minggu itu aku ada kelas ngajar di sekolah itu, gimana ya enaknya

Karena muridku di sana mau ujian jadi sekolah tidak mengizinkan aku cuti pas hari minggu. Dan aku bilang dia, dia jawab “iya gapapaa orang cuman sejam setengah kan, habis ngajar balik lagi kan bisa”. Aku bersyukur banget, lega karena dia bisa mengerti dan bijak.

Dan chat yang aku temuin di HP nya dengan kakak iparnya ternyata membahas masalah itu..
Dia tidak sebijak seperti yang dia bilang ke aku kalau dia mengizinkan. Dia ngobrol dengan bahasan yang amat sangat menjelekkanku di depan kakak iparnya. Ini chatnya.

Dia: katanya sabtu pas acara jam 1 mau ngajar dulu, pas di sini banyak orang. Jadi guru MTK dan bahasa inggris
Ipar: gitu itu pantaskah?
Dia: ya udah diiyain aja dari pada ribut, terserah
Ipar: ya udah
Dia: izin sulit soalnya mau ujiam
Ipar: ya udahlah diem o aja

See detail
Twitter
Dia: halah biarin biar sibuk semaunya, capek juga tubuhnya sendiri. Jangan sampe ngeluh ke aku. aku mending keluar sendiri lah makan enak di lalapan p*******
Ipar: betul
Dia: udahlah aku males ribut paling dia nggak bisa dikalahin. Nggak peduli sibuk nggak

See detail
Twitter
Dia: capek ya rasain sendiri, serakah emang dia
Ipar: ya udah gapapa dong, kan enak kamu (mungkin maksud dia enak karna aku kerja ngasilin duit)

Pas baca chat ini asli sakitnya sampe ke tulang-tulang :”
Padahal ipar itu baik banget kalo di depanku, merangkul benget..

Dia: (kirim foto lagi shopping)
Dia: ogah makan duit dia
Ipar: bener, biar ada harganya kamu. Aku kok kasihan sih lihat kamu dek
Dia: gitu kata kamu nikah itu enak

See detail
Twitter 
Pas aku baca itu, berasa ada yang nancep di dada tiba-tiba. Speechless..
Mau marah ke siapa? Nggak bisa. Karena yang aku tau dia bilang dia suka sama wanita yang mau kerja, dia suka sama wanita yang mandiri dan dia suka sama pekerjaanku. Bingung mau marah tapi nggak bisa

Mau tanya kenapa tapi ini sudah h-10, kepikiran persiapan dan orang tua yang udah seneng banget. Akhirnya pas dia balik dari kamar mandi, aku sudah selesai fotoin chat itu dengan pikiran nanti pas udah nikah aku bisa ngobrolin baik-baik perkara ini

Aku bakal ajak dia cari solusi kalau emang dia nggak suka aku kerja aku bakal keluar dan di rumah(setelah nikah). Akhirnya waktu itu aku milih mendem semuanya..
Seperti tidak tau apa-apa dan aku anggap aku nggak baca itu..

Hp aku taruh di tempat semula dan kita ngobrol seperti biasa dengan perasaan yang nggak karuan. Entah waktu itu bahas apa aku sampe nggak inget..
Besoknya,aku kira aku bisa mendem dengan baik dan masa bodo. Ternyata aku nggak bisa, meski aku tetep nggak bilang sama siapa pun

Hatiku nggak bisa bohong, setiap hari aku ngerasain hampa
Takut..
Setiap ingat wajah dia langsung ada ketakutan yang tiba-tiba keluar gitu aja. Dan selalu “ayo nay..dia nggak seperti itu. Ini kerjaan setan, ini cobaan. Ayo kamu bisa lewatin. Inget keluarga kamu..”

Setiap hari aku nyoba bertahan dengan ketakutan itu dan aku nggak berani nunjukkin ke siapa pun
Seakan-akan aku sedang bahagia dan menanti hari itu tiba..

Dan inilah saatnya,13 desember 2019
Hari itu tiba..
Keluarga semua ngumpul dengan suasana yang bahagia
Kami akad jam 7 pagi, syukurlah berjalan lancar
Dia mengucap akad dengan sekali tarikan napas
Seketika pikiran buruk semua hilang

Semua ketakutan redam dengan kata “SAH”
aku mulai menghilangkan semua pikiran negatifku
Dia imamku hari ini, ini jalan yang kami pilih
Baik buruk sekarang milik kami dan terhitung hari ini aku akan melupakan semua keburukan yg terjadi sebelum hari ini

Seperti prosesi pada umumnya
Momen itu kita laksanakan dengan lancar dam sukses. Semua kesedihan enyah
Semua keraguan berganti sama kebahagiaan
MasyaAllah bersyukur sekali dilimpahkan rezeki lewat momen yang sesakral ini

Sebenernya ini dalam bentuk video, cuman ga aku up karna balik lagi..
Aku tidak sekuat itu

See detail
Twitter
See detail
Twitter
Setelah hari H tidak ada yang aneh
Hari minggu acara di rumah dia dengan keluarga besar saja dan aku mutusin buat cari guru pengganti untuk sehari itu setelah baca chat dia sama ipar waktu itu. Meski aku tahu pasti bakalan kena sanksi, tapi demi kebaikan bersama aku aku bakal terima

Hari pertama kedua dan ketiga
Belum ada yang aneh
Kami masih sama-sama libur kerja, masih me time dirumah dan selayakmya penganti baru yang ogah ke mana-mana.
Tapi kita belum ngapa-ngapain karna pas hari H itu aku sedang datang bulan

Hari ke 4
Masih terbilang baik-baik saja tetapi ada yang aneh, di hari sebelumnya sebelum tidur kita bercanda-canda dan ngobrolin hal yang seru
Di hari ke 4 nggak ada obrolan apapun
Sore dia ke rumah temennya dan pulang malam langsung tidur dan tidurnya seperti ngejauhin aku

Aku masih nyoba berpikiran positif, aku anggep dia kecapean habis main atau gimana
Nah udah kek biasa
Hari ke 5 tiba-tiba pagi dia bilang mau kerja
Padahal hari itu adalah peringatan “sepasaran” kata orang jawa
Jadi sebelum sepasar si penganten nggak boleh kerja dulu

Yang awalnya dia bilang mau kerja h+8, dia berangkat kerja h+5
Mama aku mau tanya, cuma nggak enak nanti malah bikin salah paham, ya udah akhirnya dia berangkat kerja
Sepasaran itu kan kita kek bikin makanan terus diserah2-serahin ke tentangga dan saudara gitu sebagai rasa syukur

Dan aku nganterin seserahan itu ke rumah mertua juga, anehnya mertua nggak ngasih kita seserahan balik
Di situ mama aku udah ngerasa aneh cuma aku tau beliau lebih milih mendem karna nggak mau ngerusak suasana bahagia ..
(Ya Allah mama :” selalu berat kalo bahas pas part nya ortu..)

Dan pas baru selesai nganterin seserahan ke saudara-saudara tiba-tiba dia telepon
Dia: nanti tidur rumah aku aja ya, aku capek (ini bahasanya udah aneh)
Aku: iya mas, aku nanti ke sana kalau selesai bantu mama beres-beres habis masak
Dia : oke
Dan dia matiin teleponnya..
Aneh?
Banget

Aku ke sana jam 7 maleman. Kebetulan pas lewat ada orang jualan sate, aku mampir lah ke situ. Beli 4 porsi buat doi mama mertua dan ponakan dia yang sering di situ. Pas sampe rumahnya nih..
“Ma ini aku bawain sate, mama udah makan belum?”
Dan tau beliau jawab apa?

“Haduh mama nggak suka sate. Bikin pusing, ya udah taruh sana aja dulu biar dimakan orang-orang”
Aku sih nggak mikir apa-apa, cuma mikir kalau ternyata mama mertua nggak suka sate, jadi lain kali harus bawa yang lain
Nggak lama si ipar dateng (beda rumah kita) bawa mangga

Mama mertua langsung sumringah “nah itu kesukaan aku, sini sini bawa sini” dengan menyambut mangga itu
Deg..
Entah aku yang lebay atau gimana, tapi aku tiba-tiba pengin nangis gitu. Sakit..
Tapi aku milih diem

Dan aku masuk kamar, d isana ada dia lagi liat tv
Aku diem aja kan duduk di bawah(dia di kasur)
Dia denger perkara sate dan mangga tadi tapi dia diem aja
Aku masuk aja dia nggak noleh nggak apa :”
(Ini mulai sakit nyeritainnya..)

Aku masih diem sampe dia bilang “sana loh keluar, ngobrol sama yang laen kok malah di dalem”
Aku jawab “iya mas tadi udah, aku agak capek tadi bantuin mama dan nganterin seserahan sendirian”
Muka dia langsung nggak enak dan dia keluar
Aku di dalem kamar sendirian

Pas banget temen-temen video call, aku angkat. Kita ngobrol dan bercanda kek biasanya
Nggak lama kaka ipar keknya nyindir dari depan “makanya aku nggak kerja ma, takutnya nggak bisa ngelayanin suami dengan baik dan kalu pulang pasti capek, nggak ada waktu ngumpul. Di kamar mulu.”

Denger itu aku matiin video call ,pamit ke anak-anak mau ke kamar mandi. Akhirnya aku keluar duduk di sebelah dia, berharap ipar nggak nyindir-nyindir lagi..
Malah pas duduk di sana aku nggak dianggep sama sekali
Aku tanya nggak dijawab..
Mereka ketawa-ketawa ngobrol seolah aku nggak ada
(Sakit..)

Akhirnya aku jalan ke dapur..
Aku bikin teh anget siapa tau bisa nenangin sedih meski sedikit, ternyata semakin denger mereka ketawa kerasa makin sakit gitu..
Aku ini apa? Apa salahku ?
Sebelum ini mereka baik banget kenapa jadi gini?

Akhirnya aku ke kemar lagi dan tidur
Aku nggak tau jam berapa dia masuk, tau-tau pagi dan kita beraktivitas seperti biasa
Dia kerja, aku ke rumah bantu usaha orang tua lagi
Jam istirahat aku chat “gimana? Cape ya? Semangat mas..”
Di baca doang :”

Semakin hari keanehan makin menjadi
Nggak ada lagi kehangatan, nggak ada obrolan berarti, nggak ada bercanda atau kejar-kejaran
HP yang biasanya bebas aku pegang sekarang nggak bisa, dia pola
Dia sakuin terus
Aku bikinin kopi atau teh nggak diminum
Sama sekali..

Selalu aku yang buang dan mataku selalu berkaca-kaca inget gimana nasib rumah tanggaku setelah ini
Mulai hari ke 5 kita tidur kek cuma tidur
Pernah aku beraniin deketin dia, dia nggak ada respon “gerah nggak sih” malah dia bilang gitu ..

(Banjir dah banjir subhanallah rasanya..)

Aku peluk dia juga nggak ada respon..
Sampai di hari ke 8 aku kebangun tengah malam jam 1. Dan aku nggak nemuin dia di kamar
Aku keluar dan nemuin dia tidur di depan tv
Aku masuk kamar dan nangis sejadi-jadinya ..
Kecewa, sakit, ngerasa nggak pantes
Ngerasa nggak layak

Apakah karna fisikku? Dari awal aku sudah bilang kamu siap dengan fisikku yang seperti ini?
I’m curvy
Dia bilang apa masalahnya? Dia menerima baik buruk dan segala tantangannya
Tapi sekarang jadi gini?
Malam itu aku hancur ..

Hancur dengan posisi tidak punya siapa-siapa
Tidak ada pegangan sama sekali
Bahkan tempat bercerita aja nggak ada
Aku bener-bener sendiri..
Mau cerita ke orang tua, nggak mungkin
Aku nggak tega kalau ngerusak kebahagiaan mereka

Akhirnya aku cuma diem diem dan diem
Berlagak semuanya baik-baik saja dan tidak terjadi apa-apa
Meski setiap aku masak dia nggak mau makan
Semakin hari makin parah
Dia pulang jam 11 ke atas
Kerja nggak pernah pamit dan selama itu kita nggak ngapa-ngapain
Nggak ada nafkah batin yang aku terima (maaf)

Sampai hari ke 12, pagi jam 5
Aku muntah-muntah dan diare (muntaber)
Kamar mandi cuma ada 1 di lantai 1 dan aku setiap muntah k esana
Dia tau, dia lihat dan dengar aku muntah-muntah
Tapi dia sama sekali nggak tanya
“Kamu kenapa?”
“Ke dokter?”
Atau sekadar bikinin teh..

(Astaghfirullah..)

Dia lihat aku bolak balik kamar mandi dan sama sekali ngga tanya ..
Aku tanya “ada minyak kayu putih?”
Sama dia diambilin dan ditaruh gitu aja
Dia tetep ganti baju dan pergi kerja

(Wait..give me some time:” )

Lanjut..

Akhirnya aku sendirian di rumah itu
Dia tetep berangkat kerja dan mama mertua lagi nggak ada dirumah.. dia berangkat pun cuman bilang “aku berangkat dulu ya”
Aku sendirian tanpa makanan dan ke kamar mandi pun sendirian sambil pegangan tembok karna lemes dan puyeng banget

Akhirnya jam 9-an aku dah nggak kuat lagi mau jalan aku telepon ayah aku ..
Aku telepon sambil nangis-nangis dan beliau kaget “ada apa kak?”
Aku masih diem sama sesenggukan
“Kak ada apa?” Akhirnya aku beraniin bicara
“Maafin aku pa.. aku cuma bisa ngerepotin papa” masih tetep sesenggukan

“Apa se kak? Ada apa ini? Kamu kenapa?” Papa di seberang masih heran dan aku minta jemput
“Udah papa jemput aku dulu.. anter aku ke dokter pa, aku nggak bisa bangun.. lemes”
“Tunggu. papa ke sana”

Sekitar 15 menitan aku denger suara pintu kebuka,a ku yakin itu papa

Papa dateng sama kakak keponakanku yang kerja ikut papa aku. Pas papa buka pintu kamar pun aku masih sesenggukan dan duduk di bawah..
Papa langsung nuntun aku sama kakakku itu ke mobil dengan matanya yang aku tangkep berkaca-kaca
Beliau tidak tanya apa-apa
Pas udah masuk di mobil

Aku cerita semuanya dengan berjuta kata maaf yang aku ulang-ulang.
Beliau cuman ambil napas besar, dan nutupin mulutnya terus :”
Setelah tau respon beliau aku minta dianter kerumah aja, aku pengen ketemu mama dulu
Biar mama yang bikinin obat
Biasanya dibikinin jamu-jamuan gitu :”

Pas pulang mama yang di ruang tengah udah nungguin langsung ikut nuntun aku ke kamar tanpa ngomong apa-apa
Ntah kenapa pas baru dateng liat wajah beliau aku langsung nangis gitu aja :”
Pas ke kamar dan dipijitin mama pun aku sesenggukan sampe berakhir mama ikutan nangis dan meluk aku

Akhirnya kita bertiga di kamar dan aku cerita dari awal sampe akhir, pas selesai cerita mama bilang
“Nak.. mama tau ini salah. Cuman jangan gegabah ya, kita obrolin dulu kalau dia pulang. kasih tau kamu di sini biar dia ke sini”

Udah agak kondusif dan aku tidur setelah dipijitin dan dibeliin obat di apotik. Pas jam 3-an aku telfon dia..
“Mas aku sakit, aku di rumahku. Samean ke sini ya..”
Dan dia jawab apa?
“Aku juga pusing tadi makan gule kambing. Ya udah kamu tidur aja di sana”

Dia nggak mau ke rumahku :”

Aku makin nggak karuan, berasa hati ini dihantam sesuatu yang berat dan panas banget..
Akhirnya aku jawab ke dia kenapa sih dia berubah,a ku sampein semua termasuk tidur di luar, nggak mau kasih nafkah batin, kerja nggak pernah pamit, dan lain lain
Dia cuma bilang “maaf.. maaf banget”

Udah gitu doang :”
Aku sesenggukan keras sambil gedor-gedor lemari di samping ranjang aku. Ntah kenapa aku lakuin itu juga aku gapaham
Papa aku masuk dan aku bilang dia gamau ke sini, dia cuma bilang maaf
Aku nangis makin kenceng, mama ikut nangis sambil jongkok di sebelah ranjang :”

Papa aku emosi, kelihatan banget wajahnya merah tapi mataya berair :”
(Subhanallah ya Allah..ini part yang sulit banget diceritain :” )

Akhirnya ayah ganti baju dan keluar sama mama
Ternyata ayah ke rumah omnya doi, kan doi nggak punya ayah. Jadi pengganti ayah doi ya om nya ini
Ayah ke sana dan bilang kenapa seperti ini ?
Ada apa sama anak saya?
(Aku tau ini dari mama)
Intinya ayah kecewa

Dan pas doi ditelepon omnya doi cuman bilang
“Maaf.. aku ga bisa nerusin pernikahan ini”

(Astaghfirullah .. )

Pas ayah denger itu ayah langsung bilang kalau memang seperti itu ya sudah, tolong selesaikan sendiri dia dengan keluarga anda. Anak saya, saya masih kuat ngurus.

Papa pulang dan pendiem banget
Aku tanya gimana pa? Ga jawab
Bener-bener diem dan masuk kamar

Mama nyamperin aku..
Meluk dan bilang “kuat ya nak..yang tabah. Anak mama cantik anak mama masih muda, anak mama yang terbaik..”
Sambil nangis dan ngelus punggung aku :”

Dari situ aku paham
Kalimat mama nyampein kalo sekarang aku sendiri..
Aku nggak punya dia..
Dia ga akan balik ke sini..
Aku diem, speechless
Cuman mama yng meluk, pandanganku kosong
Aku bener-bener ga inget waktu itu aku gimana
Yang aku tau semuanya hancur..
Benar benar hancur..

Pas mama keluar aku ambil hp
Aku beraniin chat dia ..

See detail
Twitter
Translate
Aku : tolong. Dulu kamu minta aku ke ortuku baik-baik. sekarang kembalikan aku ke ortuku dengan cara yang baik juga
Dia: maaf traumaku yang dulu belum hilang
Aku : kutunggu di rumah, aku sudah bilang bapak ibu. Kamu sendiri yang nggak bisa mengatasi traumamu->

Aku sudah mencoba jadi istri yang baik, aku nyoba diem dan sabar. kalo kamu bisa seegois ini, aku pun bisa .tolong kembalikan aku ke orangtuaku dengan baik. Kudoakan kamu dapet wanita yang lebih dari aku. Sekali lagi, jangan lagi kamu bikin mainan anak orang, ijab qabul bukan main-main ->

Taruhannya nyawa. Anak yang kamu sakitin itu dibesarkan mati-matian oleh ayahnya. Dulu kamu minta dan sekarang kamu beginikan. Semoga kamu dapet yang lebih dari aku dan semoga kamu senantiasa diberkahi.
Kalau dibilang berat, berat mas..
Ikatan ini berarti besar buat aku, aku sayang kamu ->

Sayangku ke kamu melebihi sayang ke diriku sendiri. Aku mencoba memenuhi apa pun yang kamu butuhkan, tapi sepertinya kamu nggak punya rasa yang besar ke aku. Sayangku percuma, ndak ada timbal balik. Perlahan aku bakal ngelupain rasa ini, terima kasih sudah memberiku momen yang indah ->

Memberiku momen yang tak terlupakan. Aku nggka nyangka tadi pagi itu terakhir kali aku bisa lihat kamu.. semoga sehat selalu suamiku..

Dan dia nggak pernah bales chat terakhirku itu sampe skrg :”

Aku gapaham dia trauma apa
Tapi dia dulu pernah gagal nikah
Sudah tunangan dan mendekati hari H dia gagal menikah
Tapi kenapa trauma itu dilempar ke aku?
Kenapa dulu dia minta aku sebegitunya kalau cuman untuk begini ?

(Allah.. Allah..sakit sumpah:”)

Setelah itu aku 2 minggu nggak keluar kamar
Maunya tidur dan gelap-gelapan doang..
Sempet mikir untuk mengakhiri semuanya tapi setiap mikir ke sana aku selalu mencoba inget mama papa aku yang udah sejauh ini
Aku mencoba melawan pikiran itu sekuat yang kubisa dan aku bisa bertahan..

Dan sampe sekarang dia ataupun keluarga tidak ada yang ke rumah untuk bertanya atau mengembalikanku ke orangtuaku..
Semakin sakit dan merasa terbuang tapi aku ga boleh lagi nunjukkin kesedihan itu lagi
Ada orangtuaku yang mungkin sakitnya berlipat ganda dari aku

Ada teman dan keluarga yang sudah menguatkan
Tapi sampai sekarang itu masih susah dilupain
Setiap keluar aku bisa senyum, tapi setiap aku pulang dan sendirian di kamar, tiba-tiba kek ada yang menghantam dada lagi
Perih..
Kalo mulai kerasa tiba-tiba napas kek tertahan di tenggorokan

Sudah cukup 2 minggu aku merasakan neraka di atas kepalaku sendiri
Saudara yang tidak tau dan tetangga memandangku aneh, setiap keluar bisikan demi bisikan ga bisa dihindari

Aku share ini karna tidak ingin kalian merasakan dan mengalami hal yang sama. Bukan hanya sholat dan agamanya, tapi lihat dia saat dia di puncak amarah dan gimana dia mengatasi masalah baik itu untuk dirinya sendiri atau orang lain. Aku harap aku yang terakhir yang merasakan ini

Jangan kalian
Ini kelam ..
Benar-benar gelap
Seperti mengambil sepertiga bagian hidup
Semoga kalian bisa memetik pelajaran dari apa yang terjadi
Jangan takut menikah..
Ga ada yang salah sama pernikahan ,aku hanya sedang tidak beruntung dipertemukan dengan manusia sepertinya..

Dan jika dia baca ini
Semoga ini mewakili rasa sakit yang sudah kamu beri..
Terima kasih..
Terima kasih banyak sudah mengajarkan sabar yang tiada ujung sekaligus menempatkanku di jurang terdalam yang bahkan tak tersentuh cahaya sedikitpun
Semoga kamu bahagia : ) “

Tagged , , , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *